Senin, 09 Februari 2009
posisi kerja dalam kitab suci.net
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga) kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)
Al-Qur’an adalah pedoman begi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”, yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).
II. Pembahasan
A. Posisi Kerja dalam Kitabullah
Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”, dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.
Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).
Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.
Syarat pokok agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.
Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).
Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).
Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.
B. Kualitas Etik Kerja
Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.
Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.
1. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)
Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)
Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.
2. Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)
Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).
3. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)
Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.
Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.
Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.
Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)
Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.
4. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)
Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25, dan al-Ankabut: 69).
Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.
Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).
5. Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.
Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.
6. Mencermati Nilai Waktu
Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.
Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.
Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)
III. Penutup
Jihad Sebagai Etos
Ruhul jihad dalam bekerja mempersyaratkan mobilisasi dan optimalisasi pemberdayaan segenap potensi di jalan Allah untuk kebaikan setiap orang. Ruhul mujahadah menuntut kesabaran dan kontinyuitas kerja, bahkan menuntut tingkat kesabaran ekstra yang mampu mengungguli kesabaran para pesaing. Semua itu didukung dengan ketekunan untuk murabathah, yakni pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai (Ali Imran: 200). Ruhul jihad menolak setiap bentuk ketidakcermatan dalam memanajemen waktu yang begitu berharga; ketidak rofesionalan dalam mengelola sumber daya yang demikian mahal. Dengan tegas pula, ia menolak setiap perasaan dan sikap lemah, malas dan kurang serius, mengandalkan pada kemampuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih mencatut prestasi orang lain sebagai hasil karyanya. Sebab, cara ini analog dengan memakan harta orang lain secara batil (al Baqarah: 188 )
Secara teoritis, Kaum Muslimin mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah, dan merupakan persoalanm hidup dan mati. Akan tetapi, tidak diingkari kalau kenyataannya masih ‘jauh panggang dari pada api’. Sebaliknya, Kaum Muslimin belum tahu kalau mereka itu mempunyai kekuatan etos kerja yang sangat dahsyat, dan ketika mereka melihat prestasi suatu bangsa atau umat lain, sebagian orang Islam salut dan terpana dengan etos kerja mereka, dan kadang sambil bertanya dengan agak sinis: Adakah etos kerja dalam Islam?
Maka, di sinilah Kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara benar dan mengambil semangat atau ‘apinya’. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)
Dengan ruhul jihad, setiap muslim akan mampu mengukir prestasi dengan penuh kegairahan, kemudian secara pasti akan mengembalikan ‘izzah atau harga dirinya, sehingga disegani oleh umat lain. Sebab, kemuliaan dan gensi itu adalah milik Allah, rasul-Nya, serta orang-orang beriman (al-Munafiqun: 8 ). Tanpa semangat jihad, mereka takkan lebih dari sekedar umat ritual yang nampak soleh, tetapi tanpa gengsi, bahkan boleh jadi inferior terhadap umat atau bangsa lain.
Semangat inilah yang hendak dirusak dan dilumpuhkan oleh pemikiran dan budaya asing, demi lestarinya pengaruh mereka terhadap negeri-negeri muslim. Kaum Muslimin dijadikan target invasi pemikiran dan budaya (al-gazwul fikri). Mereka dicuri waktunya dengan berbagai sarana dan acara hiburan yang menyuguhkan budaya santai, lembek, dan pornografis. Maka, bersemailah di bumi Kaum Muslimin hiburan-hiburan yang berselera rendah, sikap basa-basi, asal bapak senang (ABS) serta budaya minta petunjuk, memudarnya kejantanan kaum pria yang bergaya wanita, dan akhirnya membentuk sikap al wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.
Profil seorang muslim adalah insan yang ramah, tetapi bukan lemah; serius, tetapi familiar dan tidak kaku; perhitungan, tetapi bukan pelit; penyantun, tetapi mengajak bertanggung jawab; disipilin, tetapi pengertian, mendidik, dan mengayomi; kreatif dan enerjik, tetapi hanya untuk kebaikan; selalu memikirkan prestasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kesenangannya adalah meminta maaf dan memberi bantuan dan kepandaiannya adalah dalam rangka mengakui karunia Allah dan menghargai jasa atau prestasi orang lain.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, serta para mujahidin di segala bidang sepanjang zaman. Berkat prestasi kerja mereka itulah, peta kejayaan ummat dapat diukurkan. Semoga kita mampu bergabung dalam barisan mereka. Aamin.
Rabu, 28 Januari 2009
jadilah saksi tuhan
Dan kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi,lalu kami berkata” tunjukanlah bukti kebenaranmu”,maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Alloh dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.Qs28:75
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri Qs 75:14
Fasilitas yang kita nikmati saat ini sebagian besar adalah merupakan apa yang di sebut karya dari para pendahulu yang telah berhasil di berikan secara sambung menyambung kepada kita. Mereka telah berikhtiar dengan segala kemampuanya untuk berprestasi di bidangnya. Sehingga menghasilkan seperti apa yang saat ini kita nikmati. Mereka telah menyugguhkan kebenaran kebenaran,nilai-nilai,kemuliaan-kemuliaan yang telah di perjuangkannya sebelumnya. Yang kesemuanya itu seakan akan hanya tinggal memakainya saja kita saat ini.
Apa yang terpapar di atas adalah hasil karya generasi pada masa lalu, yang secara fasilitas mereka sangat terbatas jika di bandingkan saat ini tapi mereka mampu melahirkan karya yang menumental sebagai warisan untuk generasi selanjutnya .Jika hanya menerima aset pendahulu,kemudian kita hanya menggunakannya sebagai fasilitas hidup tanpa berkreasi dan berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai yang telah ada berarti kita sedang tidak berperan apa-apa dalam hidup ini.
Padahal setiap individu di harapkan ikut ambil peran dalam rangka menggenapkan kesinambungan karya-karya sejarah, yang telah mampu menghantarkan tatanan nilai kehidupan, yang kita anut saat ini,melalui karya maksimal di bidang yang dia kuasai.
Rasulullah saw.berpesan agar setiap umatnya ikut menyambung estafet sejarah kehidupan yang telah beliau perjuangkan dengan sabdanya :”balighul anni walau ayatan.” Sampaikan apa yang kau peroleh dariku walau sebuah ayat(tanda)
Ayat dalam sabda tersebut adalah bermakna sebagai tanda
Tanda apakah yang di maksud oleh rasulullah saw.?
Yaitu tanda bahwa Alloh itu ada ,
Tanda bahwa Alloh itu Maha,
Tanda bahwa kita itu hadir di dunia ini,sebagai saksi bahwa Alloh itu ada dan Dia Maha.
Saksi bahwa kita adalah hamba yang hanya mengabdi kepadaNya.
Saksi bahwa kita adalah wakil wakil Alloh di muka bumi ini untuk memanage alam sesuai bidang yang kita kuasai.
Hadir sebagai saksi : memikul tanggung jawab,mengungkapkan nilai-nilai yang bisa di nikmati oleh pihak lain. Siapapun mereka dan dari golongan kelas apapun mereka.
Setiap mukmin di tuntut untuk menjadi saksi bahwa Alloh itu ada maka jangan sampai kita mendengar ada orang sakit akhirnya meninggal karena belum sempat terobati,ada orang teraniaya mati sebelum tertolong.ada orang yang kelaparan hingga dia harus mencuri.sebab setiap diri yang sakit setiap diri yang kelaparan,atau teraniaya, pasti dia berharap,dan berdo’a, maka jika apa yang mereka harapkan tidak terbukti apa yang dia do’akan tidak terkabul sementara dia berada pada situasi yang tidak menguntungkan, bisa jadi merekapun akan berprasangka ” tuhan ada apa tidak sih ? saya merintih saya meminta dan sedih, tapi Dia tidak mengutus siapapun dari hamba-hambaNya untuk menolong saya. Saya sudah memohon ribuan kali kepadaNya, tapi Dia tidak menjawab. Apakah doa-doa saya tidak di dengar Tuhan ataukah memang Tuhan itu tidak ada?”
Mengapa kita tidak menjadi saksi bahwa Tuhan itu ada, dengan tandanya kita datang menjenguk dan memberikan bantuan kepada yang sakit,memberi makan pada orang yang kelaparan memberikan bantuan kepada orang yang teraniaya dan membutuhkan pertolongan.memberikan solusi bagi mereka yang bermasalah merealisasikan harapan dan doa-doa mereka . dengan demikian kita telah di gunakan olehNya sebagai saksi bahwa tuhan itu ada dan Dia itu memang Maha .
Wallohu a’lam bishowab
Selasa, 09 Desember 2008
Selasa, 28 Oktober 2008
KHAWARIJ DAN MURJI'AH DALAM SEBUAH CATATAN SEJARAH
Pendahuluan
Alhamdulillah puji syukur kehadlirat Allah ,Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Suatu aliran muncul dalam masyarakat yang menganut Islam terjadi antara lain karena perbedaan pandangan.dan kepentingan dalam menterjemahkan Al Qur’an dalam kehidupan masing-masing pihak. Terutama hal ini terjadi karena adanya kepentingan politik praktis yang terjadi pada masa itu, maksudnya adalah Alqur’an bukan lagi di pahami dan di hayati sebagaimana yang pernah di ajarkan oleh Nabi akan tetapi sudah tekontaminasi oleh berbagai “kepentingan”.Yang ke dua terjadi karena adanya sikap tidak puas terhadap kebijakan kebijakan yang di ambil oleh pemimpin pemimpin Islam pada masa khilafah.sehingga sebagian orang yang merasa tidak terakomodir kepentinganya memberanikan diri untuk “memisahkan “diri dari orang orang yang dahulunya sangat di segani dan di turuti perintahnya.
Aliran khawarij dan murji’ah misalnya, aliran ini muncul karena adanya kepentingan yang tidak terakomodir ( khawarij) dan bagi Kaum Murji’ah tujuan utamanya adalah bagaimana Islam ini tidak di pahami sebagai mana mestinya akan tetapi lebih berorientasi pada bagaimana aqidah umat ini tidak sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh baginda rosul.dalam bahasa lain kaum Murji’ah mengupayakan pendangkalan aqidah umat dengan pernyataan- pernyataanya dan prilakunya
Makalah ini mencoba mengedepankan sisi-sisi yang positif menurut mereka ( khawarij dan Murji”ah) dan juga sisi negatif menurut mereka yang menganut ahli sunah wal jama’ah.pola pendekatan penulis yang berada pada tataran di luar ke duanya menjadikan tulisan ini semakin “obyektif”
Wallohu a’lam bishowab.
MURJI’AH
Munculnya kelompok-kelompok ini dan para penghusungnya, oleh kelompok lain di anggap sebagai petaka bagi kehidupan beragama umat manusia. Keberadaannya di tengah-tengah umat,dikatakan ibarat duri dalam daging yang semakin lama semakin merusak dan membahayakan. Syubhat-syubhat yang digulirkan pun, kian hari kian mendangkalkan tonggak-tonggak keimanan yang telah terhunjam dalam sanubari mereka. Tak pelak, kelompok ini pun di tuding sebagai pemecah belah umat. Menurut kelompok yang tidak sepaham kelompok ini di katakana sebagai berikut:” dengan kemunculannya terburailah ikatan persatuan umat yang telah dirajut sebaik-baiknya oleh baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Murji`ah (مُرْجِئَة) digolongkan Kelompok Sesat
Mereka berpendapat : di antara kelompok sesat yang telah menyimpang dari jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah kelompok Murji`ah. Ia merupakan kelompok sempalan yang berorientasi pada pendangkalan keimanan. Syubhat-syubhatnya amat berbahaya bagi tonggak-tonggak keimanan yang telah terhunjam dalam sanubari umat. Dasar pijakannya adalah akal dan pengetahuan bahasa Arab yang dipahami sesuai dengan hawa nafsu mereka, layaknya kelompok-kelompok bid’ah lainnya. Mereka berpaling dari keterangan-keterangan yang ada dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta perkataan para sahabat dan tabi’in. 1
Mengapa Disebut Murji`ah?
Murji`ah, nisbat kepada irja` (إِرْجَاء) yang artinya mengakhirkan. Kelompok ini disebut dengan Murji`ah, dikarenakan dua hal:
1. Karena mereka mengakhirkan (tidak memasukkan,.) amalan ke dalam definisi keimanan.2
2. Karena keyakinan mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhirkan (membebaskan,) adzab atas (pelaku,.) kemaksiatan.3
Siapakah Pelopor Utamanya?
Di antara sekian nama yang diidentifikasi sebagai pelopor utamanya adalah:
1. Ghailan Ad-Dimasyqi, seorang gembong kelompok sesat Qadariyyah yang dibunuh pada tahun 105 H. (Lihat Al-Milal Wan Nihal, karya Asy-Syahrastani hal. 139)
2. Salim Al-Afthas. (Lihat Kitabul Iman, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 179)
Awalnya kelompok ini bergerak secara samar Kemudian mereka berani tampil secara lebih demonstratif di negeri Kufah (wilayah Irak,) Sehingga jadilah mereka sebagai rival (tandingan) bagi kelompok Khawarij dan Mu’tazilah, dengan pahamnya bahwa amalan ibadah bukanlah bagian dari keimanan.” (Lihat Majmu’ Fatawa 13/38)
Sekte-sekte Murji`ah
Murji`ah sendiri terpecah menjadi beberapa sekte, masing-masing memiliki bentuk kesesatan tersendiri. Di antara mereka, ada yang murni Murji`ah dan ada pula yang tidak. Adapun yang murni Murji`ah antara lain; Mu’adz At-Tumani), dan Shalihiyyah (pengikut Shalih bin Umar Ash-Shalihi). Sedangkan yang tidak murni Murji`ah, antara lain; Murji`ah Fuqaha (Murji`ah dari kalangan -sebagian- ahli fiqih Kufah, pengikut Hammad bin Abu Sulaiman), Murji`ah Qadariyyah (Murji`ah dari kalangan kelompok anti taqdir, Murji`ah Khawarij (Mereka adalah sempalan kelompok Khawarij yang tampil beda dengan induk semangnya, yaitu dengan tidak memberikan sikap sedikitpun alias ber-tawaqquf terhadap pelaku dosa besar), (Untuk lebih rincinya, lihat Majmu’ Fatawa 7/543-550,
Paham Kelompok Murji`ah Secara garis besar, Pemahaman Murji`ah dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kelompok ini semua sepakat bahwa amalan ibadah bukanlah bagian dari keimanan.
Kemudian mereka berbeda pendapat tentang hakikat keimanan, dengan tiga versi:
- Iman: keyakinan dalam hati dan perkataan dengan lisan (versi Murji`ah Fuqaha).
- Iman: pengetahuan/ pembenaran dalam hati saja (versi Jahm bin Shafwan dan mayoritas Murji`ah).
- Iman: perkataan dengan lisan saja (versi Muhammad bin Karram).
2. Bahwa iman tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang, akan tetapi ia merupakan satu kesatuan yang utuh. Sehingga suatu dosa besar (kemaksiatan) tidaklah dapat mengurangi/merusak keimanan sedikit pun, sebagaimana pula suatu ketaatan tak akan bermanfaat bersama kekafiran. Atas dasar itu, pelaku dosa besar tidak bisa dihukumi sebagai orang fasiq, bahkan tergolong orang yang sempurna imannya dan tak akan mendapatkan adzab apapun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
KHAWARIJ
Masalah pemahaman keagamaan atau theologis pertama yang muncul dalam Islamjustru merupakan kelanjutan lansung suatu peristiwa politik dan historis, yaitu pembunuhan 'Utsman ibn Affan, khalifah Islam yang ketiga. Tersangkutnya masalah pemahaman keagamaan di situ ialah kebutuhan para pelaku pembunuhan itu untuk menemukan pembenaran dan pengasbsahan bagi tindakan mereka. Mula-mula, pembenaran atas pembunuhan itu diperoleh dari ajaran agama tentang kewajiban seorang penguasa untuk berlaku adil dalam menjalankan kekuasaan atau pemerintahannya. Menjalankan keadilan serta menunaikan amanat kepada yang berhak adalah perintah Tuhan yang amat penting,
Sedemikian pentingnya sehingga memenuhi perintah itu disebutkan sebagai tindakan yang paling mendekati taqwa. Maka tindakan sebaliknya, yaitu menjalankan pemerintahan secara zalim sebagaimana mereka tuduhkan kepada Utsman, adalah suatu pelanggaran yang amat prinsipil kepada ketentuan agama, sehingga merupakan suatu dosa besar. Dan karena iman, untuk dapat mewujudkan tujuannya, tidak bisa dicampur dengan kezaliman, Maka berarti bahwa suatu tindakan kezaliman membuat pelakunya keluar dari iman, yakni, menjadikannya seorang yang kafir. Dan seorang kafir yang bersikap bermusuhan adalah "halal darahnya," artinya boleh, mungkin malah harus, dibunuh.
Walaupun menurut pengamatan orang lain hal ini adalah salah, tetapi bagi pelakunya sendiri, pembunuhan itu adalah tindakan keagamaan dengan segala intensitas dan kekentalan persepsinya, sehingga pembunuhan itu dengan sendirinya dihayati sebagai suatu perbuatan saleh dan bertaqwa.
Di sinilah di mulainya berbagai keruwetan tentang pemahaman keagamaan yang telah mendapatkan "intervensi" manusia itu. Sebab, para pembunuh atau mereka yang membenarkan pembunuhan Utsman yang kelak secara paling nyata melembagakan diri dalam kelompok Khawarij (al-Khawarij, Kaum Pembelot atau "Protestan") itu mengaku sebagai hal yang benar.
Khawarij termasuk salah satu dari firqoh, golongan atau aliran yang semula merupakan aliran politik yang ada dalam Islam dan mereka timbul pada masa zaman syi’ah. Kedua duanya (syi’ah dan khawarij) semula sebagai pendukung Ali.ra. yang kemudian keluar menjadi firqoh tersendiri. Ketika membara dan memuncak peperangan”.
Tahun 657M: terjadi perang Siffin antara Ali bin Abi Thalib melawan Mu’awiyah yang saat itu merupakan gubernur Syria. Versi Umum menyatakan bahwa perang Siffin terjadi dengan sebab utama adalah komplain Mu’awiyah atas ketidakberesan penyelesaian kasus pembunuhan kepada Usman bin Affan. Namun setelah terjadi korban sekian puluh ribu orang meninggal dunia,akhirnya perang ini berakhir atau di akhiri dengan proses negoisasi/Arbitrasi. Di situlah mulai tampak dan muncul golongan yang kemudian di sebut beraliran khawarij, yaitu saat-saat Mu’awiyah menangkap sinyal dan melihat bahwa api peperangan melanda dan mendesak dirin dan kelompoknya, maka kemudian Mu’awiah memerintahkan kepada bala tentaranya agar masing-masing mengangkat mushaf (Al Qur’an) dengan maksud menuntut hukum, putusan dengan Al qur’an atau yang di kenal dengan sebutan(tahkim).
Kemudian bersepakat antara ali dan mu’awiyah untuk mengadakan perdamaian dan perundingan maka di angkatlah sebagai hakim untuk penyelesaian masalah tersebut, dua orang yang terdiri seorang dari pihak Ali dan yang seorang lain dari pihak Mu’awiyah. Dari pihak ali mengajukan ”Abdullah ibnu abas” maka kemudian dari golongan Khawarij yang sebenarnya sejak semula tidak setuju terhadap adanya perdamaian tersebut, menganggap yang demikian ini sebagai tipu daya belaka bagi golongan mu’awiyah, maka golongan khawarij ini juga mengajukan pilihan tersendiri yang mendudukan ”Abu Musa Al Asy’ari”untuk ikut serta dalam majlis tahkim tersebut yang mewakili khawarij, yang pada akhirnya hasil yang didapatkan dari majlis tahkim tersebut ”menarik Ali dan menetapkan Mu’awiyah ”.
Dari sinilah golongan khawarij menolak, mereka tidak menyetujui putusan yang di keluarkan oleh tahkim tersebut bahkan menentangnya dengan keras. Dan mereka keluar dari putusan tahkim tersebut kemudian menjadi penentang keras dan tegas, sehingga mengkafirkan (menganggap kafir) kepada Ali,Ustman dan pendukung-pendukungnya. Dengan penentangan ini maka jadilah posisi golongan khawarij ini yang semula belum banyak di kenal oleh khalayak menjadi semakin menonjol dan semakin di kenal di masyarakat luas.
DOKTRIN- DOKTRIN ALIRAN KHAWARIJ.
Kaum Khawarij mempunyai pokok-pokok ajaran atau doktrin yang antara lain garis-garis besarnya adalah :
Adanya keimamahan (ke Kholifahan ) wajib dengan adanya pilihan secara bebas dari kalangan orang-orang muslim. Dan apabila telah terpilih seorang imam, maka tidak sah dan tidak di benarkan mengundurkan diri atau di adili. Dan tidak menjadi sebuah keharusan bahwa Imam/Khalifah berasal dari golongan orang Quraiys. Dan seorang kholifah wajib tunduk kepada apa yang telah Alloh perintahkan. Kalau tidak, maka harus enyah dari ke Kholifahan atau Imamahan.
Mereka merumuskan garis-garis besar keagamaan bahwa: Yang di namakan Iman itu tidak hanya semata mata percaya, akan tetapi baru dikatakan beriman apabila memenuhi tiga hal yang antara lain adalah sebagai berikut:
Adanya pengakuan dalam hati sanubari
Dinyatakan dengan lisan dan
Dilaksanakan dengan amal perbuatan.
Menetapkan bahwa melakukan ” Dosa besar” pelakunya adalah ” kafir”
Sedangkan yang muncul sebagai pemuka pemuka mereka sekaligus sebagai tokoh tokoh golongan ini di antaranya abdulah al Raasibi, Nafi’bin Az,dan Najdah bin Amir
Penutup
Dari bahasan yang telah lewat amatlah jelas bahayanya kelompok sesat Murji`ah ini. Prinsip-prinsipnya benar-benar mendangkalkan keimanan umat, membuat mereka malas beramal shalih dan bermudah-mudahan melakukan kemaksiatan, dengan penuh keyakinan bahwa imannya sempurna dan dia akan aman dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akhir kata, demikianlah apa yang dapat kami sajikan seputar kelompok Murji`ah
Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Selanjutnya, bagi para pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kesesatan Murji`ah berikut jawabannya, maka silahkan merujuk Majmu’ Fatawa jilid 7 (Kitabul Iman), -
Daftar pustaka
* Wahab”Abd menurut pandangan para ilmuwan, CV.Pustaka. Muis”
* Al-Ajurri Al-Imam Majmu’ Fatawa jilid 7 (Kitabul Iman), Asy-Syari’ah,
* Shalih Al-Fauzan Asy-Syaikh syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah,
* Ibnul Atsir, Al-ImamAn-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar,
* Taimiyyah Ibnu,Kitabul Iman
1 Majmu’ Fatawa jilid 7 (Kitabul Iman), Asy-Syari’ah, karya Al-Imam Al-Ajurri,
3 (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, karya Al-Imam Ibnul Atsir, 2/206)
Senin, 27 Oktober 2008
Demokrasi
besar sekali pengaruhnya pada seseorang.
Pada sidang paripurna wakil rakyat untuk pemilihan kepala periode mendatang,terpilih 4 kandidat dari keturunan Jawa, Cina, Madura dan Batak.
KETUA SIDANG : "Siapa yang merasa keberatan terhadap kandidat I (Jawa)?"
Seorang wakil dari Batak maju : "Saya tidak setuju, kakek moyang kandidat itu pernah jadi raja di Indonesia dan memberi fasilitas berlebihan pada anak cucu dan koleganya untuk menguasai seluruh negara ini."
KETUA SIDANG : "Kandidat I cacat keturunan, siapa keberatan kandidat II (Cina)?"
Seorang wakil rakyat dari Batak yang lain maju : "Saya tidak setuju, kakek moyang kandidat itu pernah monopoli ekonomi rakyat, berkoalisi dengan kakek moyang kandidat I."
KETUA SIDANG : "Kandidat II cacat juga, siapa keberatan kandidat III (Madura)?"
Wakil dari Batak yang lain maju : "Saya tidak setuju, kakek moyangnya pernah jadi pengawal setia kakek moyang kandidat pertama, sering sewenang-wenang dan membohongi rakyat demi kepentingan dia dan bosnya."
KETUA SIDANG : "Kandidat III cacat juga, satu kandidat yang tersisa siapa keberatan ?"
Semua anggota rapat diam. Wakil-wakil dari batak terlihat senang... karena untuk pertama kalinya kepala negara berasal dari sukunya. Habis mereka jengkel banget.... masak sejak berakhirnya kerajaan Sriwijaya, kekuasaan selalu di tangan orang Jawa.
Tapi tiba-tiba utusan Jawa maju kedepan sambil bawa koran terbitan tahun 1990-an, sambil bilang : "Inilah kakek moyang kandidat keempat."
KETUA SIDANG terkejut..... : "Saudara-saudara, untuk saat ini kita masih belum dapat calon kepala negara yang cocok, maka saya usulkan masa jabatan kepala negara sekarang diperpanjang untuk satu periode lagi."
Kontan utusan Batak terkejut, karena artinya Jawa akan berkuasa lagi
meskipun semua tahu banyak cacat yang timbul semasa kekuasaannya, dan belum jelas apa cacat jagonya.
WAKIL BATAK : "Apa cacat calon dari kami sehingga Ketua sidang menolak ?"
KETUA SIDANG : "Koran ini memberitahukan tentang kakek moyang kandidat IV."
Ramai-ramai anggota sidang melihat koran itu, di halaman pertama dicetak besar-besar :
"METRO MINI P07 MASUK KALI SUNTER, 33 orang diketemukan tewas, Sopirnya tak bertanggung jawab, melarikan diri bersama keneknya sampai saat ini belum ditemukan..."
ANGGOTA SIDANG : "Ooooooo begitu ceritanya....."
Kamis, 23 Oktober 2008
refleksi diri
REFLEKSI DIRI
Adik-adik………
Di suasana yang tenang ini mungkin akan lebih ni’mat ketika kita mencoba sejenak untuk kembali menengok semua kisah perjalanan hidup kita.
Tentang bagaimana diri kita ini bisa sampai berada pada dunia yang indah ini.
Semua bermula dari berkenannya Alloh menghadirkan kita di dunia ini, lewat kedua orang tua ,ayah dan ibu kita.
Kala itu betapa berbunga bunganya hati ayah ibu kita,menanti sang surya kehidupan,tambatan hati, pelanjut cita cita beliau berdua, yaitu kita.
Karena rasa syukur ayah ibu kita,.... sempat waktu itu bakal kehadiran kita ini di kabarkan sebagai kabar gembira kepada handai tolan, keluarga, dan para tetangga. ……….beliau merasa bangga menanti kehadiran kita.….
Dengan tanpa rasa lelah sedikitpun ibu kita merawat dan menanti kehadiran kita buah hati dan harapan keluarga,Kian hari kian bulan bertambah berat beban yang harus di tanggung ibu demikian juga dengan kecemasan dari ayah kita.,…… sampai……
Tibalah saat saat kelahiran kita.
Waktu itu….. ibu hanya ada dua pilihan antara hidup atau mati dalam memperjuangkan kehadiran kita di dunia ini.
Ibu tidak mempedulikan dirinya”Alhamdulillah hirobbil alamin ya alloh engkau selamatkan anaku” kata ibu, ketika beliau berdo’a sambil berurai air mata.
Kala itu ibu kita tersenyum walau sebenarnya rasa sakit yang amat sangat beliau rasakan. ....Semua itu beliau lakukan hanya untuk buah hatinya,,,, anak tercintanya....yaitu kita,
Ketika kita sudah lahirpun ternyata penderitaan ibu dan ayah kita belum berakhir Di saat-saat ibu tengah makan sambil mengendong kita, beliau harus tinggalkan makan nya karena harus membersihkan air besar kita.. Di tengah kantuknya ibu dan di tengah malam, ibu harus bangun karena tangisan kita minta air susu,
Rengekan kita kala kita sedang sakitpun membuat hati ayah ibu gundah, gelisah, dan sedih. namun semua itu tak pernah beliau pedulikan karena harapan gemilang terhadap kita anaknya yang tercinta di kemudian hari.
Justru malah untaian do’a yang ibu sampaikan kepada Alloh ” Ya Alloh jadikanlah anak kami ini anak anak yang sholeh ya Alloh yang membuat hati kami tenang dan tersenyum kala aku memasuki usia senja”
Namun apa yang terjadi mana kala anak itu, kita sudah beranjak dewasa, semua harapan itu tidak pernah terwujud,justru balasan yang sebaliknya yang ayah ibu terima dari kita anak anaknya yang tercinta
Ayah kita sering berkeluh kesah, air mata ibu sering berderai karena kata kata kotor yang beliau terima dari anak anak nya yang tersayang.
Umpatan ,penghinaan dan perlakuan kasar dari kita mewarnai guratan dahi beliau di kala usia senja
Bahkan sering kita menjadikan nasehat nasehat beliau sebagai bahan ejekan dan guyonan dengan teman teman kita
Amanat yang beliau berikan kepada kita untuk belajar dengan benar tidak pernah kita tunaikan justru dengan bapak ibu guru..... kita smakin melecehkan, menghina dan tidak ada rasa hormat sedikitpun.padahal merekalah yang menuntun kita dari kebodohan menjadi orang yang berilmu ,tapi............apa balasan yang beliau terima dari kita murid murid yang beliau cintai ini ...justru kedurhakaan dari kita
Seperti biasanya ............
Pagi itu ayah kita pergi bekerja..... ibu kita mempersiapkan kebutuhan sekolah kita mulai dari sarapan, menatakan sesuatunya untuk kita dan juga uang saku untuk putranya yang tersayang.Kita riang dan senang berangkat kesekolah tanpa ada beban sedikitpun dalam benak kita.
Tapi .......................
Baru jam sembilan pagi ada panggilan dari pihak sekolah ;;;;;;;;;;;;;kata sang guru kau harus pulang kerumah saat ini juga nak . belum sempat kita bertanya ternyata di sana ada tetangga dan paman kita menjemput kita .
Ada apa paman....???? sang paman tertunduk lesu tanpa menjelaskan apa yang sedang terjadi.....kita pun mendesak sang paman ,tapi paman semakin tidak mampu menjawab.
Hanya kata kata .........”ayo kamu harus segera pulang” sesampainya di rumah sudah banyak para tetangga yang di rumah ada apa gerangan ini ???. maka terjawablah saat itu ..... ketika kita melihat di ruang tamu ada dua sosok yang terbujur kaku ayah dan ibu kita ternyat beliau berdua telah di panggil sang maha kuasa.
Sabtu, 18 Oktober 2008
kisah samodra kehidupan
Kisah
Ketika suatu hari aku bertandang pada sebuah pelabuhan di suatu kota, di sana terlihat hiruk pikuknya perjalanan anak manusia di atas samudra kehidupan maka pada saat yang sama aku teringat sebuah kisah yang cukup membuat hati ini sadar akan sesuatu yang seharusnya kita kerjakan dalam kehidupan dunia ini. Kisah itu menceritakan perjalanan sebuah kapal besar yang tengah berjalan mengarungi samudra luas dengan fasilitas kapal yang cukup memadai. Pada saat itu kapal tengah berada di tengah-tengah samodra dengan penumpang yang sekian banyaknya, ada binatang dan kendaraan diatas gladak kapal dan para penumpang lain mulai dari anak-anak sampai dewasa bahkan yang tua renta,kakek-kakek dan nenekpun ada.
Semua sibuk lalu lalang diatas kapal itu, ada yang sekedar berjemur, ada yang bergurau dengan teman ada yang tidur-tiduran di kamar atau ada yang menghabiskan waktunya hanya untuk melihat tayangan televisi cabel yang ada. Pendeknya semua orang hanya ingin menikmati kehidupanya di atas kapal dengan gaya masing-masing sambil menanti saat-saat kapal berlabuh.
Namun tak lama kemudian dalam perjalanan kapal itu terjadilah peristiwa yang sangat mengaggetkan seluruh penumpang kapal itu, yaitu terjeburnya seorang nenek tua ke samudra di mana kapal itu tengah berjalan. Maka semua panik,semua bingung,dan semua resah. di sudut kapal itu terdengar jeritan dan isak tangis yang memilukan., suasana menjadi tegang dan mendebarkan terutama keluarga si nenek tadi Tapi walaupun suasana demikian tak ada seorangpun yang punya keinginan dan niatan untuk menolong, semua orang hanya mampu mengeluh, bicara dan bertanya bagaimana, piye, yok opo dan kata-kata lain yang serupa tapi tak satupun dari mereka yang bertindak untuk menyelamatkan.
Maka selang tak lama kemudian terjunlah seorang pemuda ke samudra itu dan akhirnya membawa nenek itu selamat naik keatas kapal. Setelah sampai di atas kapal semua orang bersorak gembira, semua orang senang dan memuji keberanian sang pemuda. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa bahkan Mualim dari kapal itupun memberikan ucapan selamat atas keberaniannya,bak sang pahlawan pemuda itu mendapatkan pujian dan sanjungan. Bahkan sang Mualim kapal itupun menawarkan berbagai hadiah yang ia inginkan ” wahai kisanak aku sangat berterima kasih padamu atas segala keberanianmu sehingga nyawa sang nenek tadi terselamatkan. kini apapun hadiah yang engkau inginkan akan aku berikan kepadamu.Mintalah dan sampaikan, aku akan berusaha untuk memenuhinya.
Para pembaca yang budiman! jikalau yang menjadi pemuda tadi itu kita dan begitu banyaknya tawaran hadiah yang akan kita dapatkan, kita akan merasa senang dan wajah kita pasti berseri-seri. Tapi tidak demikian dengan pemuda tadi, sejak dia menaikan si nenek dan mendapatkan ucapan yang cukup banyak bahkan tawaran hadiah yang begitu menggiurkan tapi wajahnya tidak sedikitpun tersenyum bahkan seakan-akan dia ingin marah yang sangat hebat.Dengan keadaan yang demikian ini sang pemuda menjawab tawaran dari sang Mualim ” Wahai bapak... aku tidak tertarik sedikitpun dengan ucapan terima kasih seluruh penumpang padaku bahkan juga hadiah yang bapak tawarkan padaku. Tapi kalau aku boleh meminta satu hal pada bapak dan semua penumpang ini maka hal ini akan aku sampaikan.
Sang Mualim pun dengan suka cita menjawab:” silahkan wahai kisanak apa yang hendak engkau inginkan. Sang pemuda menjawab : ” wahai bapak dan seluruh penumpang kapal,aku tidak mengharap pujian dan sanjungan dari kalian, punpula aku juga tidak mengharapkan hadiah apapun dari kalian tapi aku hanya ingin satu hal dari kalian.” Tunjukan padaku siapa diantara kalian yang telah mendorongku sampai aku jatuh dan terjun ke samodra tadi. Di luar dugaan, dengan tawaran hadiah yang sekian banyaknya sang pemuda hanya ingin di tunjukan siapa yang mendorongnya hingga dirinya bisa sampai ke samodra.Di sisi lain juga di luar dugaan bahwa keberadaanya di samodra tadi ternyata bukan atas kemauanya sendiri dari sang pemuda tadi
Pembaca yang budiman ....................................
Tentu kisah ini bukan hanya sebatas kisah tapi pasti ada sebuah ibroh atau pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya
Terjeburnya sang nenek merupakan peringatan buat kita semua bahwa kita harus hati- hati dalam kehidupan ini, walau tempat kita sudah berada pada posisi nyaman sekalipun.kita harus tetap berhati-hati. Karena hati-hati dalam segala aktifitas kehidupan ini merupakan salah satu refleksi dari nilai Taqwa seseorang dalam kehidupanya. Mengapa demikian karena salah satu dari makna taqwa adalah hati-hati.
Jika kita mengamati pada terjeburnya sang pemuda dalam samodra tadi kita dapat mengambil hikmah yang cukup, yakni ternyata hidup ini bukan atas kemauan kita sendiri, kita hidup ini di hidupkan. Jikalau saya mengambil conteck cerita tadi: ternyata kita ini” didorong dalam samodra kehidupan” maka setelah kita berada pada tengah-tengah samodra kehidupan, kita punya pilihan-pilihan yang harus kita kerjakan.Apakah kita memilih untuk berbuat kebajikan atau kita memilih berbuat kejahatan,maka semuanya ada resiko-resiko yang harus di pertanggungjawabkan dalam kehidupan. Jika kita diam kita akan tenggelam. Jika kita terlalu berlebihan kitapun akan terombang ambing oleh samodra kehidupan. Maka pilihan sang pemuda tadi amatlah tepat.Walaupun ia belum tahu siapa yang mendorongnya dalam samodra kehidupan, ia tetap berbuat yang terbaik buat sesamanya. Ia memilih untuk beraktifitas memikirkan dan berbuat bukan hanya untuk diri sendiri.Ia tidak terlalu serakah dengan iming iming dunia yang berupa hadiah dari nahkoda kapal dan mualim tapi ia lebih mengedepankan mencari petunjuk siapa yang menghadirkan dia dalam samodra kehidupan.
Wallohua’lam bishowab.
SUJARWA
